Wednesday, March 25, 2015

Customer Sevices

Customer service adalah setiap kegiatan yang ditujukan untuk memberikan kepuasan melalui pelayanan yang diberikan seseorang kepada kliennya dalam menyelesaikan masalah dengan memuaskan. Pelayanan yang diberikan termasuk menerima keluhan atau masalah yang sedang dihadapi.

Tugas dan fungsi customer service adalah seorang customer service harus pandai dalam mencari jalan keluar untuk menyelesaikan berbagai masalah-masalah yang dihadapi oleh pelanggan atau tamunya. Tugas customer service yaitu memberikan pelayanan yang prima dan membina hubungan baik dengan nasabah, klien atau pelanggan. Seorang customer rervice juga harus bertanggung jawab dari awal sampai akhir dari pelayanan tersebut. Customer service juga berfungsi sebagaimana di bawah ini:
  • Penerima Tamu - Dalam hal ini Seorang customer service melayani pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tamu serta memberikan informasi yang diinginkan selengkap mungkin secara ramah, sopan, menarik dan menyenangkan. Harus selalu memberi perhatian, bicara dengan suara jelas serta lembut, dan memakai bahasa yang mudah dimengerti klien.
  • Customer Relation Office - Artinya bahwa customer service yaitu orang yang dapat membina hubungan baik dengan klien/pelanggan. Sehingga merasa puas, senang, dan juga semakin percaya. Customer service harus menyiapkan formulir ataupun brosur untuk tamu/klien, serta ikut membantu mengisi formulir.
  • Komunikator - Dengan cara memberikan berbagai informasi dan kemudahan-kemudahan kepada tamunya, juga sebagai tempat menampung berbagai macam keluhan, keberatan ataupun sebagai tempat konsultasi.
Pengertian customer service
Pengertian Customer Service

Syarat Customer Service (syarat pada umumnya), bisa di baca di bawah ini:

Syarat Fisik, antara lain :
  • Menarik dari segi wajah dan penampilan.
  • Memiliki tingga badan serta berat badan harus proporsional. Misalnya seperti: tinggi badan ideal untuk laki-laki minimal 165 cm & untuk perempuan minimal 160 cm.
  • Memiliki kesehatan jasmani maupun kesehatan rohani.
Syarat mental, harus mempunyai :
  • Memiliki mental yang kuat dalam melayani klien, sebab akan memberikan kepercayaan diri yang lebih baik, dapat memberikan keyakinan dan menimbulkan sifat kejujuran maupun tanggung jawab yang besar terhadap apa saja yang dilakukannya.
Syarat Kepribadian, yaitu:
  • Energik dan juga gesit.
  • Rasa humor dan selalu ingin maju.
  • Mampu mengendalikan diri sendiri.
  • Tidak mudah marah atau tempramental.
  • Tidak terpancing untuk berkata-kata ataupun berbuat kasar.
Syarat Sosial, diantaranya yaitu:
  • Memiliki jiwa Sosial yang tinggi.
  • Bijaksana.
  • Mempunyai budi pekerti yang tinggi.
  • Pandai bergaul dan bersosialisasi dengan siapapun.
  • Dapat bekerjasama serta berkomitmen dengan berbagai macam pihak.

Monday, February 23, 2015

Uji Marshal

Metode Marshall
Rancangan campuran berdasarkan metode Marshall ditemukan oleh Bruce Marshall, dan telah distandarisasi oleh ASTM ataupun AASHTO melalui beberapa modifikasi, yaitu ASTM D 1559-76, atau AASHTO T-245-90. Prinsip dasar metode Marshall adalah pemeriksaan stabilitas dan kelelehan (flow), serta analisis kepadatan dan pori dari campuran padat yang terbentuk. Alat Marshall merupakan alat tekan yang dilengkapi dengan proving ring (cincin penguji) berkapasitas 22,2 KN (5000 lbs) dan flowmeter. Proving ring digunakan untuk mengukur nilai stabilitas, dan flowmeter untuk mengukur kelelehan plastis atau flow. Benda uji Marshall berbentuk silinder berdiameter 4 inchi (10,2 cm) dan tinggi 2,5 inchi (6,35 cm). Prosedur pengujian Marshall mengikuti SNI 06-2489-1991, atau AASHTO T 245-90, atau ASTM D 1559-76.
Secara garis besar pengujian Marshall meliputi: persiapan benda uji, penentuan berat jenis bulk dari benda uji, pemeriksaan nilai stabilitas dan flow, dan perhitungan sifat volumetric benda uji. Pada persiapan benda uji, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Jumlah benda uji yang disiapkan.
2. Persiapan agregat yang akan digunakan.
3. Penentuan temperatur pencampuran dan pemadatan.
4. Persiapan campuran aspal beton.
5. Pemadatan benda uji.
6. Persiapan untuk pengujian Marshall.
Jumlah benda uji yang disiapkan ditentukan dari tujuan dilakukannya uji Marshall tersebut. AASHTO menetapkan minimal 3 buah benda uji untuk setiap kadar aspal yang digunakan. Agregat yang akan digunakan dalam campuran dikeringkan di dalam oven pada temperatur 105-110ºC. Setelah dikeringkan agregat dipisah-pisahkan sesuai fraksi ukurannya dengan mempergunakan saringan. Temperatur pencampuran bahan aspal dengan agregat adalah temperatur pada saat aspal mempunyai viskositas kinematis sebesar 170 ± 20 centistokes, dan temperatur pemadatan adalah temperatur pada saat aspal mempunyai nilai viskositas kinematis sebesar 280 ± 30 centistokes. Karena tidak diadakan pengujian viskositas kinematik aspal maka secara umum ditentukan suhu pencampuran berkisar antara 145 ºC-155 ºC, sedangkan suhu pemadatan antara 110 ºC-135 ºC.
3.4.1 Uji Marshall
Prinsip dasar dari metode Marshall adalah pemeriksaan stabilitas dan kelelehan (flow), serta analisis kepadatan dan pori dari campuaran padat yang terbentuk. Dalam hal ini benda uji atau briket beton aspal padat dibentuk dari gradasi agregat campuran yang telah didapat dari hasil uji gradasi, sesuai spesifikasi campuran. Pengujian Marshall untuk mendapatkan stabilitas dan kelelehan (flow) mengikuti prosedur SNI 06-2489-1991 atau AASHTO T245-90.
Dari hasil gambar hubungan antara kadar aspal dan parameter Marshall, maka akan diketahui kadar aspal optimumnya.
3.4.2 Uji Marshall Rendaman
Setelah diketahui kadar aspal optimumnya, kemudian membuat 6 briket untuk dilakukan uji Marshall rendaman. 3 briket direndam dalam water bath selama 30 menit, sedangkan 3 briket selanjutnya direndam dalam water bath selama 24 jam masing-masing pada suhu 60º
C. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui keawetan dan kerusakan yang diakibatkan oleh air.
4.1.3 Pengujian Marshall
Pengujian Marshall dilakukan untuk mengetahui nilai stabilitas dan kelelehan (flow), serta analisa kepadatan dan pori dari campuran padat yang terbentuk. Dalam hal ini benda uji atau briket beton aspal padat dibentuk dari gradasi agregat campuran tertentu, sesuai spesifikasi campuran. Metode Marshall dikembangkan untuk rancangan campuran aspal beton. Sebelum membuat briket campuran aspal beton maka perkiraan kadar aspal optimum dicari dengan menggunakan rumus pendekatan. Setelah menentukan proporsi dari masing-masing fraksi agregat yang tersedia, selanjutnya menentukan kadar aspal total dalam campuran. Kadar aspal total dalam campuran beton aspal adalah kadar aspal efektif yang membungkus atau menyelimuti butir-butir agregat, mengisi pori antara agregat, ditambah dengan kadar aspal yang akan terserap masuk ke dalam pori masing-masing butir agregat. Setelah diketahui estimasi kadar aspalnya maka dapat dibuat benda uji.
Untuk mendapatkan kadar aspal optimum umumnya dibuat 15 buah benda uji dengan 5 variasi kadar aspal yang masing-masing berbeda 0,5%. Sebelum dilakukan pengujian Marshall terhadap briket, maka dicari dulu berat jenisnya dan diukur ketebalan dan diameternya di tiga sisi yang berbeda. Melakukan uji Marshall untuk mendapatkan stabilitas dan kelelehan (flow) benda uji mengikuti prosedur SNI 06-2489-1991 AASHTO T245-90. Parameter Marshall yang dihitung antara lain: VIM, VMA, VFA, berat volume, dan parameter lain sesuai parameter yang ada pada spesifikasi campuran. Setelah semua parameter briket didapat, maka digambar grafik hubungan kadar aspal dengan parameternya yang kemudian dapat ditentukan kadar aspal optimumnya. Kadar aspal optimum adalah nilai tengah dari rentang kadar aspal yang memenuhi Marshall test modifikasi. Modifikasi alat Marshall ini terletak pada alat pemegang benda uji. Kalau pada uji Marshall konvensional benda uji merupakan silinder dengan diameter 10 cm, maka pada alat Marshall modifikasi ini benda uji berupa balok yang terbuat dari campuran beton aspal. Seperti pada Gambar 3.5. alat ini berfungsi untuk mengukur ketahanan campuran beton aspal menahan beban lentur dengan cara ”three point bending test”. Dari tes ini sekaligus akan dapat diukur lendungan maksimum yang bisa ditahan, serta proses penjalaran retak sebelum benda uji mengalami keruntuhan.
Pengujian Marshall dimulai dengan persiapan benda uji. Untuk keperluan ini perlu diperhatikan hal sebagai berikut :
Bahan yang digunakan telah memenuhi spesifikasi
Kombinasi agregat memenuhi gradasi yang disyaratkan
Untuk keperluan analisa volumetrik (density-voids), berat jenis bulk dari semua agregat yang digunakan pada kombinasi agregat, dan berat jenis aspal keras harus dihitung terlebih dahulu.
Jumlah benda uji, minimum tiga buah untuk masing-masing kombinasi.
Oven dalam kaleng (loyang) agregat yang sudah terukur gradasi dan sifat mutu lainnya, sampai temperatur yang diinginkan
Panaskan aspal terpisah sesuai panas yang diinginkan pula.
Cetakan dimasukkan dalam oven dengan temperatur 930C.
Campur agregat dan aspal sampai merata.
Keluarkan dari oven cetakan dan siapkan untuk pengisian campuran, setelah campuran dimasukkan kedalam cetakan tusuk-tusuk dengan spatula 10 x bagian tengah dan 15 x bagian tepi.
Tumbuk 2×75 kali
Keluarkan benda uji dari mold dengan Extruder pada kondisi dingin.
Diamkan contoh satu malam, kemudian periksa berat isinya.
Langkah pengujian
Rendam dalam water bath pada temperatur 600C selama 30 menit dan keringkan permukaan benda uji serta letakkan pada tempat yang tersedia pada alat uji Marshall
Setel dial pembacaan stabilitas dan kelehan yang telah terpasang pada alat Marshall
Lakukan pengujian Marshall dengan menjalankan mesin penekan dengan kecepatan deformasi konstan 51 mm (2 in.) per menit sampai terjadi keruntuhan pada benda uji.
Baca dan catat besar angka pada dial untuk memperoleh nilai stabilitas (stability) dan kelelehan (flow)
Dengan faktor koreksi dan kalibrasi proving ring pada alat Marshall dapat diperoleh nilai stabilitas dan kelelehan (flow).

Thursday, February 5, 2015

Kupas "Changing Course In Urban Transport" (Part 1)

Kupas "Changing Course In Urban Transport"

Buku ini terbagi menjadi empat bagian bahasan penting, yaitu: 
1. Pendahuluan (An Urgent Need For Change)
2. The Urban Transport Dilemma 
3. Option for Sustainable Mobility 
4. Delivering Sustainable Mobilityt

Bab 1
Pendahuluan 
(An Urgent Need For Change)

Disajikan melalui foto, kondisi transportasi di kota-kota Asia sebagai akibat dari penggunaan kendaraan bermotor (selanjutnya kita sebut motorisasi). 

Terjadi peningkatan penggunaan kendaraan bermotor di berbagai kota di Asia. Tentunya hal ini mempunyai segi positifnya ditinjau dari segi ekonomi, menunjukan adanya peningkatan daya beli masyarakat, perekonomian membaik. Tapi disisi lain hal ini mempunyai dampak lebih lanjut terhadap ekonomi itu sendiri, sosial budaya, kesehatan, amdal, dan tentunya Transportasi Perkotaan. 
Hal ini digambarkan secara jelas seperti di kota Manila, Jakarta Singapura, Beijing, Indore, Delhi. 




Thursday, January 29, 2015

Pengertian Transportasi Umum

Transportasi Umum, sering orang menyebutnya sebagai Public Transportation, Mass Transportation, juga disebut Transit Transportation. Ilmu mengenai transportasi umum ini sebenarnya terkait dengan sarana yaitu MODA. Jika dahulu kita familiar dengan transportasi yang dikenal bagian didalamnya meliputi sarana, prasarana, operasional maupun feasibility, maka transportasi umum merupakan bagian didalamnya (sarana).

Berbicara mengenai Transportasi Umum , menjadikan kita harus berbicara secara terintegrasi, tidak bisa secara parsial. Hal yang berkaitan dengan transportasi umum antara lain: 
1. Urban transportation problem (terdapat berbagai masalah dan dilema)
2. Suistainability (harus berbicara future/masa depan)
3. Moda (diklasifikasikan menjadi beberapa jenis moda) 
4. Penjadwalan 
5. Quality 
6. Financing (menyangkut: fare, memilih angkutan publik)
7. TOD (Transit Oriented Development)

Transportasi umum mempunyai karakteristik yang berbeda dengan angkutan pribadi. Secara mutlak tidak bisa menggantikan seratus persen keberadaan angkutan umum. Hanya ketika ada pemikiran pengalihan angkutan pribadi ke angkutan umum, masyarakat harus diberikan sosialisasi yang memadai, dan pilihan yang fair. 

Sunday, December 21, 2014

State Preferences

       Dalam survey preferensi, dikenal dua metode pendekatan.  Pendekatan pertama adalah Revealed Preference (RP). Teknik Revealed Preference menganalisis pilihan masyarakat berdasarkan laporan yang sudah ada. Dengan menggunakan teknik statistik diidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan. Teknik Revealed Preference ini memiliki kelemahan antara lain dalam hal memperkirakan respon individu terhadap suatu keadaan pelayanan yang belum ada pada saat ini dan bisa jadi keadaan tersebut berbeda jauh dari keadaan yang sekarang (Ortuzar and Willumsen, 2001).
Kelemahan pada pendekatan pertama tersebut dicoba diatasi dengan pendekatan kedua yang disebut teknik Stated Preference (SP). Teknik Stated Preference merupakan terhadap responden untuk mengetahui respon mereka terhadap situasi yang berbeda. Pada teknik ini peneliti dapat mengontrol secara penuh faktor-faktor yang ada pada situasi hipotesis.  Masing-masing individu ditanya tentang responnya jika mereka dihadapkan kepada situasi yang diberikan dalam keadaan yang sebenarnya (bagaimana preferensinya terhadap pilihan yang ditawarkan). Kebanyakan Stated Preference menggunakan perancangan eksperimen untuk menyusun alternatif-alternatif yang disajikan kepada responden. Rancangan ini biasanya dibuat orthogonal, artinya kombinasi antara atribut yang disajikan bervariasi secara bebas satu sama lain. Keuntungannya adalah bahwa efek dari setiap atribut yang direspon lebih mudah diidentifikasikan (Pearmin et al., 1991).
          Metode Stated Preference terbagi menjadi tiga macam, yaitu Contingen Valuation, Conjoint Analiysis dan Discrete Choice.  Contingent Valuation terdiri dari dua macam, yaitu: opened ended dan referendum. Pada open-ended, respoden ditanya mengenai Willingness To Pay mereka (atau keinginannya untuk menerima kompensasi) untuk suatu perbaikan (pengurangan) lingkungan tertentu atau perubahan kualitas tertentu. Analisis statistik dari data yang dihasilkan dengan teknik ini relatif langsung. Saat ini metode opened-ended Contingent Value sudah jarang dipergunakan karena hasil yang dipergunakan karena hasil yang diperoleh ternyata bias untuk rentang waktu tertentu (Novirani, 2007).
Kebanyakan studi Contingent Value saat ini menggunakan metode Referendum. Teknik ini melibatkan responden untuk membuat pilihan di antara dua alternatif yang ditawarkan. Apakah responden mau membayar atau tidak membayar sejumlah tertentu untuk mendapatkan penambahan kualitas pelayanan (Novirani, 2007).

Conjoint analysis terbagi menjadi tiga macam cara analisis, yaitu conjoint rating, conjoint ranking dan paired comparison. Conjoint Rating, responden diminta untuk mengevaluasi sekelompok alternatif dalam satu waktu, dengan menggunakan skala numerik.  Conjoint ranking, responden diberikan tiga atau lebih alternatif dalam setiap pertanyaan dan diminta memberikan rangking dari alternatif-alternatif tersebut yang paling disukai sampai dengan yang paling tidak disukai.  Paired comparison, responden diberikan dua alternatif dalam satu waktu untuk memberikan nilai (rate) terhadap preferensi mereka dalam skala nilai 5 – 10. Sejumlah pertanyaan diajukan ke setiap responden, dimana responden hanya perlu mempertimbangkan 2-3 atribut dalam satu waktu (Kotri, 2006).

Tuesday, December 16, 2014

Perencanaan Overlay Perkerasan Part 1

Perencanaan Overlay Part 1 
Bahan Bab 13 Yang H. Huang

Overlay perkerasan terdiri dari 4 macam overlay. 


1. HMA Overlay diatas perkerasan asphalt

Design-nya mulai dari berdasarkan perhitungan empiris sampai kepada keputusan dari seorang engineering. 


2. HMA Overlay diatas perkerasan PCC (Rigid Pavement)

Analisis mekanisnya sangat sulit, karena terdiri dari dua material yang berbeda, yang tentunya mempunyai sifat yang berbeda. Sebelum di-overlay, lapisan lama harus dalam keadaan baik atau sudah diperbaiki kondisinya. Jika rigid pavementnya tidak bisa diperbaiki, satu-satunya cara harus dihancurkan, kemudian dibuat perkerasan kembali, dengan perhitungan buka overlay tetapi perkerasan baru rigid. 


3. PCC Overlay diatas perkerasan Asphalt Pavement 

Penggunaan overlay ini tidak umum dilakukan. Tetapi pernah dilakukan di negara lain. Prosedur desain sama dengan prosedur perhitungan desain baru, dan perkerasan yang ada menjadi pondasi bagi perkerasan lama. 


4. PCC Overlay diatas perkerasan PCC Pavement

Ada tiga macam overlay ini, yaitu : unbonded, bonded dan partially bonded. 

Monday, December 15, 2014

Discrete Binomial yang Mengikuti Bernnoulli Trial

Asumsi :
1. Yang muncul hanya satu dari dua (lempar koin,  lulus atau tidak lulus). Pilihan yang ada hanya dua buah,
2. Peluang sukes (peluang yang diharapkan) tidak sama dengan kejadian positif.
3. Peluang suksesnya tetap.
4. Antar pengulangan kejadian tidak saling bergantung (independent)
5. Dapat diulang beberapa kali.